Berpayung dalam gerimis
Aku melakukan bersamamu
Menyasikan senyummu dibawah hujan
dari garis-garis gigimu yang rapi
Sedekat mata kita sedekat harus nafasmu
Aku menikamti setiap desah
Saat kamu menarik nafas
Saat kau mulai menghembuskannya kembali
Menikmati setiap kedipan matamu
Setiap apa yg kamu perintahkan kepada matamu
Aku membiarkan ada aliran air di dahi kirimu
Itu memabah cantikmu saat itu
Kita sedikit kebasahan
Kamu sedekat mungkin menikmati teduhnya payung itu
*apa kamu lupa kemaren kamu mencintaiku ?
Senin, 10 Juni 2013
Aku menemukanmu sedang sakit, dan kau menemukanku sedang sekarat. bag 2
Seperti bisa dihari kemaren, sapaan "selamat pagi sayang" di BBM, WHatApp, dan telepon menjadi candu diwarna baru kamu. "Kerjaan barumu adalah ngePING!!! Dan kerjaan baruku menunggu PING!!! Darimu" begitu saya selalu bilang disela-sela obrolan.
Jujur, sebenanrnya kami belum pernah bertatap muka langsung dari rasa nyaman ini, kita tidak begitu saling kenal, tapi kita saling percaya bahwa "tidak butuh saling mendekap agar jantung kita bersaksi, dalam cinta yang dimulai dari ketertarikan hati, maka hati mampu menjawab segala ragu-ragu kita".
Beberapa sahabat meragukan kebenarannya, tetapi aku percaya, dan dia pun percaya bahwa kita tidak absurd, kita ada, nyata dan tertulis didalam ketetapan Tuhan.
Tetapi kita sama-sama tidak pernah tahu, bagaimana keyakinan itu datang? Apa mungkin kita benar-benar saling jatuh cinta ?
*jawabnnya adala "IYA". :)
Beberapa waktu dari keresahan-keresahan itu, ahirnya saya menemuinya, dia ada diujung sana, aku terbang dgn segala keceman, dagdigdug, dalam perjalanan aku berpikir ini buruk, ini tidak nyata, ini hanya retorika manis dalam dunia maya, meskipun dia selalu menyakinku "aku ada sayang, aku nyata, kita nyata" lagi-lagi deburan kata "aku kangen banget sayang" itu meruntuhkan keraguanku.
"Tidak, ini benar, ini nyata, hati kami ada dalam padu rindu yang sama, hati kami ada dlam dekap hangat kekhawatiran yang sama, ini benar-benar ada, ini taktir" begitulah saya mengumam dalam penerbangan saya.
Dan akhirnya setalah saya sampai dikota yang masih tampak sangat baru itu dimataku, saya harus menunggu dalam cemas selama tiga hari, tanpa ragu saya menantinya, setelah 3 hari dia datang menemuiku, ya, kami berjumpa di halte putih, dia tersenyum sumringah padaku, dan hatiku berdegup tak beraturan.
Kita menghabiskan banyak detik bersama, kita saling becerita panjang lebar, dia sangat ingin tahu tentang kehidupanku, dia begitu cantik dimataku, sesekali, aku mencium keningnya, dia menyambut mesra sehingga memudarkan segala ragu dihari kemaren. Yah, kami benar-benar-benar saling membutuhkan. :)
Pada satu kesempatan, aku memeluknya dari belakang, dan berbisik lirih ditelinga kanannya "sayang, suatu saat aku pasti kehilangan kamu, tetapi untuk bagian ini aku siap kecewa" tiba-tiba hening, aku tahu ada gemuruh negatif dihatinya saat itu, dia begitu menikmati setiap hal yang terjadi, tawa, awang-awang dan sentuhan mesra dariku, dan aku pun begitu, yang tidak mau melewatkan sedetikpun keindhan itu.
Disela tawa kami aku berkata sedemikian percaya diri "kamu beruntung bisa mendapat kasih sayangku, karena salah satu orang bahagia didunia ini adalah orang yang pernah merasakan kasih sayangku" :)
Dia diam seoalah tak paham, tetapi dia tetap menikamti romantisme itu, dia perempuan baik yang sangat cerdas membuat lelakinya bahagia.
"I love you, I love you more" begitu percakapan yang sering keluar dari kami, "sini sayang, aku peluk sampai kamu sesak, agar kamu bisa merasakan kesaksian jantungku, agar kamu tahu kuatnya nadiku" retorikaku selalu membuatnya tersenyum, kita memeluk hati yang sama, ialah hati kita, memeluk tubuh yang sama, ialah tubuh kita.
Emmmm aku lupa berapa kali ya aku cium kelopak matamu?
Mata yang selalu menganggu tidurku, mata yang selalu aku rindukan, mata yang selalu menatapku dalam-dalam.
Mata yang pernah menangis didepanku, mata teduh yang mencintaiku.
*next
Jujur, sebenanrnya kami belum pernah bertatap muka langsung dari rasa nyaman ini, kita tidak begitu saling kenal, tapi kita saling percaya bahwa "tidak butuh saling mendekap agar jantung kita bersaksi, dalam cinta yang dimulai dari ketertarikan hati, maka hati mampu menjawab segala ragu-ragu kita".
Beberapa sahabat meragukan kebenarannya, tetapi aku percaya, dan dia pun percaya bahwa kita tidak absurd, kita ada, nyata dan tertulis didalam ketetapan Tuhan.
Tetapi kita sama-sama tidak pernah tahu, bagaimana keyakinan itu datang? Apa mungkin kita benar-benar saling jatuh cinta ?
*jawabnnya adala "IYA". :)
Beberapa waktu dari keresahan-keresahan itu, ahirnya saya menemuinya, dia ada diujung sana, aku terbang dgn segala keceman, dagdigdug, dalam perjalanan aku berpikir ini buruk, ini tidak nyata, ini hanya retorika manis dalam dunia maya, meskipun dia selalu menyakinku "aku ada sayang, aku nyata, kita nyata" lagi-lagi deburan kata "aku kangen banget sayang" itu meruntuhkan keraguanku.
"Tidak, ini benar, ini nyata, hati kami ada dalam padu rindu yang sama, hati kami ada dlam dekap hangat kekhawatiran yang sama, ini benar-benar ada, ini taktir" begitulah saya mengumam dalam penerbangan saya.
Dan akhirnya setalah saya sampai dikota yang masih tampak sangat baru itu dimataku, saya harus menunggu dalam cemas selama tiga hari, tanpa ragu saya menantinya, setelah 3 hari dia datang menemuiku, ya, kami berjumpa di halte putih, dia tersenyum sumringah padaku, dan hatiku berdegup tak beraturan.
Kita menghabiskan banyak detik bersama, kita saling becerita panjang lebar, dia sangat ingin tahu tentang kehidupanku, dia begitu cantik dimataku, sesekali, aku mencium keningnya, dia menyambut mesra sehingga memudarkan segala ragu dihari kemaren. Yah, kami benar-benar-benar saling membutuhkan. :)
Pada satu kesempatan, aku memeluknya dari belakang, dan berbisik lirih ditelinga kanannya "sayang, suatu saat aku pasti kehilangan kamu, tetapi untuk bagian ini aku siap kecewa" tiba-tiba hening, aku tahu ada gemuruh negatif dihatinya saat itu, dia begitu menikmati setiap hal yang terjadi, tawa, awang-awang dan sentuhan mesra dariku, dan aku pun begitu, yang tidak mau melewatkan sedetikpun keindhan itu.
Disela tawa kami aku berkata sedemikian percaya diri "kamu beruntung bisa mendapat kasih sayangku, karena salah satu orang bahagia didunia ini adalah orang yang pernah merasakan kasih sayangku" :)
Dia diam seoalah tak paham, tetapi dia tetap menikamti romantisme itu, dia perempuan baik yang sangat cerdas membuat lelakinya bahagia.
"I love you, I love you more" begitu percakapan yang sering keluar dari kami, "sini sayang, aku peluk sampai kamu sesak, agar kamu bisa merasakan kesaksian jantungku, agar kamu tahu kuatnya nadiku" retorikaku selalu membuatnya tersenyum, kita memeluk hati yang sama, ialah hati kita, memeluk tubuh yang sama, ialah tubuh kita.
Emmmm aku lupa berapa kali ya aku cium kelopak matamu?
Mata yang selalu menganggu tidurku, mata yang selalu aku rindukan, mata yang selalu menatapku dalam-dalam.
Mata yang pernah menangis didepanku, mata teduh yang mencintaiku.
*next
Aku menemukanmu sedang sakit, dan kau menemukanku sedang sekarat. bag 1
Perempuan itu aku sebut dia "anak kecilku" di publik, dan "mata senja" di beberapa keadaan dan waktu lain.
Awalnya, sebiasa mungkin kami berkomunikasi melalui jejaring sosial, saling komentar dengan retorika candaan yang biasa, *kesamaan kami adalah sama-sama humoris. :)
*sama-sama gemar konsumsi ikan tongkol.
Kemudian, entah... Proses itu tiba-tiba berubah pada hal yang saling menyediakan bahu, kita saling bercerita seputar "putusnya saya dengan orang dimasa lalu saya, dan tentang hubunganya degn pacarnya yang sudah tidak seharmonis dulu" dia bilang "kita sama-sama punya cerita menarik untuk saling diceritakan.
dia berkata "Tidak butuh waktu lama untuk merasa nyaman sama kamu", kita saling menikmati kenyamanan itu, kita seolah manusia haus yang menemukan hujan saat itu, seolah musafir padang pasir yang menemukan danau, kita menikamti teduh tenang dari riuhnya pedih dihari kemaren, kita tidak bersalah karena kita sekedar berbagi senyum.
Kemudian, senyum kami semakin mewah, akhirnya menyentuk kepekaan hati masing-masing, rasa nyaman itu terlalu membabi buta datangnya sehingga kami tidak kuasa menolak, kita berada dalam dekapan nyaman, selalu tertindih rindu, akhirnya kami menjafi candu yang tidak tertolong saat itu.
Kami semakin sekarat pada rasa nyaman diantara ketakutan-ketakutan kami, diantara hati gigil kami. :)
Pernah sesekali dia berkata "kelak, akan ku kagetkan dunia atas kehadiranmu dihidupku" kalimat yang sama sekali tidak saya sangka keluar dari bibirnya, lalu kami semakin saling datang dan menelanjangi masa lalu masing-masing, aku dan dia menjaki satu (kita) dalam balutan perban rasa nyaman.
* Next :)
Awalnya, sebiasa mungkin kami berkomunikasi melalui jejaring sosial, saling komentar dengan retorika candaan yang biasa, *kesamaan kami adalah sama-sama humoris. :)
*sama-sama gemar konsumsi ikan tongkol.
Kemudian, entah... Proses itu tiba-tiba berubah pada hal yang saling menyediakan bahu, kita saling bercerita seputar "putusnya saya dengan orang dimasa lalu saya, dan tentang hubunganya degn pacarnya yang sudah tidak seharmonis dulu" dia bilang "kita sama-sama punya cerita menarik untuk saling diceritakan.
dia berkata "Tidak butuh waktu lama untuk merasa nyaman sama kamu", kita saling menikmati kenyamanan itu, kita seolah manusia haus yang menemukan hujan saat itu, seolah musafir padang pasir yang menemukan danau, kita menikamti teduh tenang dari riuhnya pedih dihari kemaren, kita tidak bersalah karena kita sekedar berbagi senyum.
Kemudian, senyum kami semakin mewah, akhirnya menyentuk kepekaan hati masing-masing, rasa nyaman itu terlalu membabi buta datangnya sehingga kami tidak kuasa menolak, kita berada dalam dekapan nyaman, selalu tertindih rindu, akhirnya kami menjafi candu yang tidak tertolong saat itu.
Kami semakin sekarat pada rasa nyaman diantara ketakutan-ketakutan kami, diantara hati gigil kami. :)
Pernah sesekali dia berkata "kelak, akan ku kagetkan dunia atas kehadiranmu dihidupku" kalimat yang sama sekali tidak saya sangka keluar dari bibirnya, lalu kami semakin saling datang dan menelanjangi masa lalu masing-masing, aku dan dia menjaki satu (kita) dalam balutan perban rasa nyaman.
* Next :)
Jumat, 07 Juni 2013
Aku adalah Awan
aku
hanyalah sekedar awan pada ufuk sore
menentang jingga memancing amarahnya
menenggelamkan pilu pada kepakan burung-burung pemuja jingga.
aku
adalah kelana pengutuk malam
mencuri senja dari penyatuanku dengan jingga
lihatlah aku dengan murkanya jingga
maka damailah para hati yang kelelahan.
aku adalah Awan
Kamis, 29 November 2012
dwitasari tweet
ini adalah tweet dwitasari di twitter..
entahlah mengapa aku suka nge RT jelmaan" cinta yang menari di awan ini..
cinta yang seperti ini adalah cinta yang tidak akan pernah berhenti..
cinta yang model begini adalah tong sampah,,,
kemudian hanyalah berharap tanpa melakukan apapun,,
kejarlah,,, lakukanlah sekalipun hatimu menggigil,,
jangan biarkan kebahagiaanmu terabaikan...!! :)
@dwitasaridwita
Dalam kamus orang yang sedang jatuh cinta. Tak ada kata bego, bodoh, dan tolol, yang ia tahu hanya berkorban. Itu aja.
@dwitasaridwita
Pernahkah kaumemikirkan seseorang bahagia karena melihatmu bahagia? meskipun kebahagiaanmu tak membutuhkan hadirnya.
@dwitasaridwita
kamu tau segalanya, tapi kamu memilih diam, memilih tak peduli; agar aku tak memasuki hidupmu terlalu dalam.
@dwitasaridwita
entahlah mengapa aku suka nge RT jelmaan" cinta yang menari di awan ini..
cinta yang seperti ini adalah cinta yang tidak akan pernah berhenti..
cinta yang model begini adalah tong sampah,,,
kemudian hanyalah berharap tanpa melakukan apapun,,
kejarlah,,, lakukanlah sekalipun hatimu menggigil,,
jangan biarkan kebahagiaanmu terabaikan...!! :)
Dalam kamus orang yang sedang jatuh cinta. Tak ada kata bego, bodoh, dan tolol, yang ia tahu hanya berkorban. Itu aja.
Pernahkah kaumemikirkan seseorang bahagia karena melihatmu bahagia? meskipun kebahagiaanmu tak membutuhkan hadirnya.
kamu tau segalanya, tapi kamu memilih diam, memilih tak peduli; agar aku tak memasuki hidupmu terlalu dalam.
dari kejauhan, rindu kita ternyata tak benar-benar bersentuhan.
enggak, kamu gak ngerti rindu yang aku simpan
sedalam apa. kamu cuma bisa berpersepsi, mengkalkulasi, perasaanmu mati.
Perhatian sederhana yang terlalu sering ditunjukkan
lama-kelamaan berubah menjadi lebih dari itu. Cinta, mungkin.
kita temenan, tapi ada perasaan yang tumbuh lebih dari itu. kamu tahu?
Memeluk tak harus dengan lengan, bisa juga dengan.... doa.
Mungkin, kali ini giliran aku yang pergi. Akan ada saatnya kita disatukan Tuhan kembali.
Jangan biarkan aku melangkah sendirian tanpa pengawasanmu. :')
Beberapa hal yang datang memang kadang ditakdirkan untuk tidak tinggal, tapi pergi; agar lebih baik
Kamu tahu segalanya dari mataku, dari tindakanku, tapi kamu memilih tak mengartikan segalanya terlalu jauh.
Kamu tahu aku berbohong ketika berkata ikhlas
melepaskanmu, kamu hanya tak ingin memperpanjang waktu saat bersamaku.
Senin, 26 November 2012
Sejatinya orang dewasa tidak akan pernah bisa punya banyak pilihan :)
Malam ini aku menghabiskan waktu di teras kostku yg panas ini
Seoalah ada yang menahanku disini malam ini, entahlah setan kah, atau malaikatkah ?
Yang jelas aku lebih suka menikmati keragu"an bulan dalam menyampaikan sinar malam ini,
dibandingkan dengan membahas masa depan bangsa ini bersama kawan" pembebasan dari makassar di sekitar kampusku. :)
Aku menjadi penghuni kost yg baik malam ini,
ditemani Rokok dan BBM yang tiada henti berbunyi,
lalu seperti biasa ahir" ini aku selalu tidak terpisahkan dengan botol minumku..
Rasa haus selalu menggangguku stiap saat.. dan celakanya.. Setiap kali ku meneguk air..
Aroma rokok menarik hati agar menghisapnya kembali dan terus berulang".. :(
Aku menghisapnya dengan penuh kasih, lalu ku hembuskan asap di balik sadarku.
Mataku tiada henti"nya tertuju pada keragu"an bulan,
Absurd memang.. Bahkan sedikitpun tidak tampak mendung mengeksploitasi sinarnya
Tp bulanku kucel.. Kusam.. seperti Mukaku saat ini,
Apa dia sedang menertawakanku malam ini ?
Entahlah...
Tp apapun itu aku tidak peduli.. Aku akan menikmati ini sampai darah
Sampai nadi, sampai jantung, sampai mati.. :)
Ini rasioanalitas yang begitu rumit... Aku tak berdaya menghadapinya.
walau sebenanya ada hikmah yang harus ku syukuri,
karena Keadaan ini tidak berkepanjangan..
Karena keadaan yang memonopoli kebebasanku
Karena keadaan yang menelanjangi keinginanku..
Ahirnya smua ini memang benar" menyadarkanku
"Setelah dewasa.. Hal yang kita inginkan tidak selalu dikabulakan"
dan kini tugasku adalah merawat hati agar tumbuh samakin besar
Karena satu"nya cara agar bisa menerima keadaan adalah dengan cara berbesar hati bukan ? :)
Keadaan ini telah menggiringku pada ketidak tahuan
bagaiman caraku menyampaikan rindu ?
bagaman caraku jujur bahwa aku ingin memeluknya ?
dengan lenganku sendiri "pertama dan yang terahir" ?
Tetapi aku teringat dengan apa yg disampaikan oleh Mas "Moammar MK"
"rindu yang paling klimaks adalah ketika dua insan saling berjauhan tetapi saling mendoakan"...
Lalu kemudian dwitasari juga pernah menyampaikan bahwa
"Pelukan itu tidak harus dengan tangan kita sendiri, tetapi bisa memalui do'a"...
Apa yang disampaikan oleh mereka..
Semakin manyadarkan aku..
Bahwa sejatinya Orang dewasa memang benar" tidak akan bisa punya banyak pilihan... :)

Seoalah ada yang menahanku disini malam ini, entahlah setan kah, atau malaikatkah ?
Yang jelas aku lebih suka menikmati keragu"an bulan dalam menyampaikan sinar malam ini,
dibandingkan dengan membahas masa depan bangsa ini bersama kawan" pembebasan dari makassar di sekitar kampusku. :)
Aku menjadi penghuni kost yg baik malam ini,
ditemani Rokok dan BBM yang tiada henti berbunyi,lalu seperti biasa ahir" ini aku selalu tidak terpisahkan dengan botol minumku..
Rasa haus selalu menggangguku stiap saat.. dan celakanya.. Setiap kali ku meneguk air..
Aroma rokok menarik hati agar menghisapnya kembali dan terus berulang".. :(
Aku menghisapnya dengan penuh kasih, lalu ku hembuskan asap di balik sadarku.
Mataku tiada henti"nya tertuju pada keragu"an bulan,
Absurd memang.. Bahkan sedikitpun tidak tampak mendung mengeksploitasi sinarnya
Tp bulanku kucel.. Kusam.. seperti Mukaku saat ini,
Apa dia sedang menertawakanku malam ini ?

Entahlah...
Tp apapun itu aku tidak peduli.. Aku akan menikmati ini sampai darah
Sampai nadi, sampai jantung, sampai mati.. :)
Ini rasioanalitas yang begitu rumit... Aku tak berdaya menghadapinya.
walau sebenanya ada hikmah yang harus ku syukuri,
karena Keadaan ini tidak berkepanjangan..
Karena keadaan yang memonopoli kebebasanku
Karena keadaan yang menelanjangi keinginanku..
Ahirnya smua ini memang benar" menyadarkanku
"Setelah dewasa.. Hal yang kita inginkan tidak selalu dikabulakan"
dan kini tugasku adalah merawat hati agar tumbuh samakin besar
Karena satu"nya cara agar bisa menerima keadaan adalah dengan cara berbesar hati bukan ? :)
Keadaan ini telah menggiringku pada ketidak tahuan
bagaiman caraku menyampaikan rindu ?
bagaman caraku jujur bahwa aku ingin memeluknya ?
dengan lenganku sendiri "pertama dan yang terahir" ?
Tetapi aku teringat dengan apa yg disampaikan oleh Mas "Moammar MK"
"rindu yang paling klimaks adalah ketika dua insan saling berjauhan tetapi saling mendoakan"...
Lalu kemudian dwitasari juga pernah menyampaikan bahwa
"Pelukan itu tidak harus dengan tangan kita sendiri, tetapi bisa memalui do'a"...
Apa yang disampaikan oleh mereka..
Semakin manyadarkan aku..
Bahwa sejatinya Orang dewasa memang benar" tidak akan bisa punya banyak pilihan... :)

Jumat, 02 November 2012
sesungguhnya ini bukan pilihan 1
Aku memang tidak sepintar sahabat"mu itu Mahes, aku bukan perempuan pemikir seperti mereka..
sekarang kamu boleh memilih.. antara aku dan mereka yang harus tinggal dihidupmu..
dengan nada memaksa dia (Dalianti) berkata sambil menahan tangis kepedihan dihatinya,
tanpa tatap dia lalu membuang muka didepanku, aku tahu betul perasaannya saat ini, lalu aku peluk dia dengan kata maaf...
Dalianti,, maafkan saya, saya tidak berniat melukaimu, apalagi membandingkanmu dengan
siapapun..
kamu harus tahu, sesungguhnya ini bukan pilihan, apa yang bisa ku pilih, ini tidak benar Daliant..
kamu dan mereka mempunyai porsinya sendiri" didalam hatiku, mereka sahabatku, mereka ada ditempat berbeda denganmu,, kamu harus percaya,, atau setidaknya kasih saya kesempatan untuk menjelaskan dan membuktikan semua ini..
kamu harus tahu, sesungguhnya ini bukan pilihan, apa yang bisa ku pilih, ini tidak benar Daliant..
kamu dan mereka mempunyai porsinya sendiri" didalam hatiku, mereka sahabatku, mereka ada ditempat berbeda denganmu,, kamu harus percaya,, atau setidaknya kasih saya kesempatan untuk menjelaskan dan membuktikan semua ini..
bagaimana kamu ingin pergi...?
bagaimana aku harus menahanmu ?
sungguh aku lelaki tolol yang tak mampu membaca kesakitanmu dibagian ini,
aku lelaki bodoh yang tak bisa mengartikan diam pedihmu dibagian ini.
maaf.!!!
dia tetep saja membungkam dan mencoba melepaskan dekapanku,,,
semakin dia coba melepaskan diri, aku semakin erat menenggelamkannya dalam pelukanku..
kalo boleh jujur, saat itu adalah hal yang paling sulit buatku, aku hanya bisa mencoba menenangkan dia, meyakinkan dia,..
beberapa lama kita tenggelam dalam pelukan satu arah itu, ahirnya dia terisak dan menangis sambil meremas" rambutku..
saat itulah aku yakin, ada angin ketenangan menghapiri jiwanya, lalu dia mulai berbicara dengan isak manjanya itu...
aku tidak tahu harus menjelaskan apalagi padamu Maheswara, aku tidak benar" mengerti tentang keadaan ini, yang aku tahu hanyalah aku takut kehilanganmu,
aku takut kau dan aku merenggang tanpa jarak,
aku tidak ingin siapapun mengambilmu,
aku benar" takut ada orang lain yang mencoba menyentuh hidungmu,
menyentuk bibirmu, dan aku tidak ingin ada orang lain menemukan tempat ternyaman dihatimu,
aku ingin menguasai utuh hatimu, aku takut, dan benar" takut...
aku takut kau dan aku merenggang tanpa jarak,
aku tidak ingin siapapun mengambilmu,
aku benar" takut ada orang lain yang mencoba menyentuh hidungmu,
menyentuk bibirmu, dan aku tidak ingin ada orang lain menemukan tempat ternyaman dihatimu,
aku ingin menguasai utuh hatimu, aku takut, dan benar" takut...
aku kalah melihat airmatanya, dia mampu menelanjangi ketegasanku, aku benar" tidak bisa mengendalikannya, dan dia semakin menguasaiku dengan kepolosannya itu..
Mahes..
apa kamu pikir enak punya pacar berdekatan dengan perempuan lain ?
apa kamu pikir aku setegar itu untuk menerima dengan flat apa yang kamu lakukan dengan sahabat"mu itu ?
Tidak Mahes, tidak..
aku terlalu lemah untuk begitu, aku terlalu rapuh untuk menerima semuanya begitu saja..
aku hanya berjuang ditempat yang masih bisa ku perjuangkan,
aku cukup berhak kan Van tentang ini ?
dia semakin membuat keadaanku tersudut, dia mendilasikan egoku menjadi benar" tidak berdaya..
maafkan aku Dalian,
kamu begitu berarti bagiku, aku tidak mungkin pergi, aku tidak bisa pergi,
kamu harus tahu itu.. kamu adalah segala bagiku,
maafkan aku
maafkan aku
maafkan aku
lalu dia diam, dan aku mulai berani mendaratkan kecupku dikeningnya, dia mulai menghapus airmatanya,
lalu mengajakku pulang..
sepanjang perjalanan dia tak banyak bicara, dia bungkam dibalik hlem putihnya itu, kita menjadi kaku diatas laju motor yang sengaja aku pelankan saat itu..
aku tahu, rasa marahnya tidak semudah itu terbayar dengan pelukan murahku itu, dia tidak semudah itu aku taklukkan..
akupun menjadi tolol dan tidak bisa mencairkan suasana, meski sempat beberapa kali aku coba mebuat pembahasan baru, tetapi dia menjawab dengan sesingkat mungkin..
dan seampainya dipintu rumahnya, tanpa menoleh dia berlalu meninggalkanku diatas motor bututku,
tanpa sepath katatpun dia menghilang dibalik pintu..
dia tidak pedulikan kegelisahanku.. dan akupun memutuskan pergi,, mungkin dia sedang tidak ingin bicara denganku, dan aku tahu betul apa yang terjadi dengannya..
Langganan:
Postingan (Atom)