Senin, 10 Juni 2013

Aku menemukanmu sedang sakit, dan kau menemukanku sedang sekarat. bag 1

Perempuan itu aku sebut dia "anak kecilku" di publik, dan "mata senja" di beberapa keadaan dan waktu lain.
Awalnya, sebiasa mungkin kami berkomunikasi melalui jejaring sosial, saling komentar dengan retorika candaan yang biasa, *kesamaan kami adalah sama-sama humoris. :)
*sama-sama gemar konsumsi ikan tongkol.
Kemudian, entah... Proses itu tiba-tiba berubah pada hal yang saling menyediakan bahu, kita saling bercerita seputar "putusnya saya dengan orang dimasa lalu saya, dan tentang hubunganya degn pacarnya yang sudah tidak seharmonis dulu" dia bilang "kita sama-sama punya cerita menarik untuk saling diceritakan.
dia berkata "Tidak butuh waktu lama untuk merasa nyaman sama kamu", kita saling menikmati kenyamanan itu, kita seolah manusia haus yang menemukan hujan saat itu, seolah musafir padang pasir yang menemukan danau, kita menikamti teduh tenang dari riuhnya pedih dihari kemaren, kita tidak bersalah karena kita sekedar berbagi senyum.
Kemudian, senyum kami semakin mewah, akhirnya menyentuk kepekaan hati masing-masing, rasa nyaman itu terlalu membabi buta datangnya sehingga kami tidak kuasa menolak, kita berada dalam dekapan nyaman, selalu tertindih rindu, akhirnya kami menjafi candu yang tidak tertolong saat itu.
Kami semakin sekarat pada rasa nyaman diantara ketakutan-ketakutan kami, diantara hati gigil kami. :)
Pernah sesekali dia berkata "kelak, akan ku kagetkan dunia atas kehadiranmu dihidupku" kalimat yang sama sekali tidak saya sangka keluar dari bibirnya, lalu kami semakin saling datang dan menelanjangi masa lalu masing-masing, aku dan dia menjaki satu (kita) dalam balutan perban rasa nyaman.

* Next :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar