Seperti bisa dihari kemaren, sapaan "selamat pagi sayang" di BBM, WHatApp, dan telepon menjadi candu diwarna baru kamu. "Kerjaan barumu adalah ngePING!!! Dan kerjaan baruku menunggu PING!!! Darimu" begitu saya selalu bilang disela-sela obrolan.
Jujur, sebenanrnya kami belum pernah bertatap muka langsung dari rasa nyaman ini, kita tidak begitu saling kenal, tapi kita saling percaya bahwa "tidak butuh saling mendekap agar jantung kita bersaksi, dalam cinta yang dimulai dari ketertarikan hati, maka hati mampu menjawab segala ragu-ragu kita".
Beberapa sahabat meragukan kebenarannya, tetapi aku percaya, dan dia pun percaya bahwa kita tidak absurd, kita ada, nyata dan tertulis didalam ketetapan Tuhan.
Tetapi kita sama-sama tidak pernah tahu, bagaimana keyakinan itu datang? Apa mungkin kita benar-benar saling jatuh cinta ?
*jawabnnya adala "IYA". :)
Beberapa waktu dari keresahan-keresahan itu, ahirnya saya menemuinya, dia ada diujung sana, aku terbang dgn segala keceman, dagdigdug, dalam perjalanan aku berpikir ini buruk, ini tidak nyata, ini hanya retorika manis dalam dunia maya, meskipun dia selalu menyakinku "aku ada sayang, aku nyata, kita nyata" lagi-lagi deburan kata "aku kangen banget sayang" itu meruntuhkan keraguanku.
"Tidak, ini benar, ini nyata, hati kami ada dalam padu rindu yang sama, hati kami ada dlam dekap hangat kekhawatiran yang sama, ini benar-benar ada, ini taktir" begitulah saya mengumam dalam penerbangan saya.
Dan akhirnya setalah saya sampai dikota yang masih tampak sangat baru itu dimataku, saya harus menunggu dalam cemas selama tiga hari, tanpa ragu saya menantinya, setelah 3 hari dia datang menemuiku, ya, kami berjumpa di halte putih, dia tersenyum sumringah padaku, dan hatiku berdegup tak beraturan.
Kita menghabiskan banyak detik bersama, kita saling becerita panjang lebar, dia sangat ingin tahu tentang kehidupanku, dia begitu cantik dimataku, sesekali, aku mencium keningnya, dia menyambut mesra sehingga memudarkan segala ragu dihari kemaren. Yah, kami benar-benar-benar saling membutuhkan. :)
Pada satu kesempatan, aku memeluknya dari belakang, dan berbisik lirih ditelinga kanannya "sayang, suatu saat aku pasti kehilangan kamu, tetapi untuk bagian ini aku siap kecewa" tiba-tiba hening, aku tahu ada gemuruh negatif dihatinya saat itu, dia begitu menikmati setiap hal yang terjadi, tawa, awang-awang dan sentuhan mesra dariku, dan aku pun begitu, yang tidak mau melewatkan sedetikpun keindhan itu.
Disela tawa kami aku berkata sedemikian percaya diri "kamu beruntung bisa mendapat kasih sayangku, karena salah satu orang bahagia didunia ini adalah orang yang pernah merasakan kasih sayangku" :)
Dia diam seoalah tak paham, tetapi dia tetap menikamti romantisme itu, dia perempuan baik yang sangat cerdas membuat lelakinya bahagia.
"I love you, I love you more" begitu percakapan yang sering keluar dari kami, "sini sayang, aku peluk sampai kamu sesak, agar kamu bisa merasakan kesaksian jantungku, agar kamu tahu kuatnya nadiku" retorikaku selalu membuatnya tersenyum, kita memeluk hati yang sama, ialah hati kita, memeluk tubuh yang sama, ialah tubuh kita.
Emmmm aku lupa berapa kali ya aku cium kelopak matamu?
Mata yang selalu menganggu tidurku, mata yang selalu aku rindukan, mata yang selalu menatapku dalam-dalam.
Mata yang pernah menangis didepanku, mata teduh yang mencintaiku.
*next
Tidak ada komentar:
Posting Komentar