hey...
apa kamu ingat, purnama kemaren ?
dikota kecilmu itu pemadaman listrik sedang terjadi selama beberapa saat,
untung saja bulan sedang bulat-bulatnya,
lalu aurora yang indah menyatu dengan senyummu yang menawan itu,
ketika itu aku merasakan terang dengan sinar putih penyatuanmu dengan bulan,
ada spektrum membelai wajahku yang kusut karena asap,
ada nyanyian lusuh dirambutku, dan smua itu terbelai dalam gelap.
engkau seperti senja,
yang memaksa kekuasaan terang jatuh pada gelap,
engkau bercerita banyak hal,
sungguh anggun tetapi tak terjamah,
sungguh menawan tetapi tak teraba,
lalu menyisakan kesenduan diantara tawa,
*sungguh sesatnya perasaan ini,
salah arah dan tak mau kembali,
salah tempat dan tau mau bergeser,, ahirnya aku tidak tertolong. :(
malam itu retorikamu tak terdengar jelas,
aku hanya memperhatikan beningnya matamu,
aku hanya memperhatikan tarian bibir mungilmu itu,
apapun yang kamu lakukan menjadi kunci dari senyumku yang tidak bertuan ini.
aku memperhatikan betul caramu berhutbah dibawah purnama malam itu,
aku menyaksikan peraduan senyum di bawah auroranya,
dan aku semakin tenggelam dalam hutbahmu.!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar